Perilaku Manusia dan Kepribadiannya
A. Pengertian Tingkah Laku
Tingkah
laku adalah suatu ciri khas / bentuk karakter individu atau
manusia sendiri. Tingkah laku ialah apa yang seseorang itu lakukan
dan katakan. Ciri-ciri tingkah laku:- apa yang orang kata dan lakukan
(Actions)- mempunyai satu atau lebih dimensi (Dimensios) yang boleh diukur
(Kekerapan, tempoh masa, intensiti, latensi)- boleh diperhatikan, diurai dan
direkod (Observable and Measurable)- Mempunyai impact kepada persekitaran-
Menurut hukum (lawful) – (hubungan antara tingkah laku dengan peristiwa
dipersekitaran)- dalam bentuk overt or covert. Tingkah laku juga merupakan
respon dari rangsangan, rangsangan itu muncul baik dari dalam maupun dari luar
dengan cara merasa, berpikir dan kebutuhan sehingga muncul sikap dari diri
seseorang.
B. Arti
Penting Pemahaman Tingkah Laku
Usaha-usaha
untuk menyusun teori maupun konsep yang utuh dalam rangka menjelaskan perilaku
manusia sudah sejak lama dilakukan orang. Meskipun berbagai usaha yang
dilakukan untuk menyusun teori maupun konsep tersebut sudah secara terus
menerus dilakukan, akan tetapi teka-teki tentang tingkah laku manusia belum
sepenuhnya terjawab.
Ditinjau
dari jumlah manusia di muka bumi yang tidak terhitung, kenyataan menunjukkan
bahwa tidak ada satupun yang memiliki karakteristik yang sama, bahkan pada
individu yang lahir dalam keadaan kembar yang yang identik sekalipun.
Meskipun
terdapat berbagai hambatan maupun kesulitan dalam memahami tingkah laku
manusia, manusia ternyata tidak pernah berhenti berusaha untuk mencari jawaban
tentang segala hal yang berkaitan dengan tingkah laku manusia melalui berbagai
kajian ilmu antara lain, dari tinjauan astrologi, teologi, filsafat,
antropologi, sosiologi, dan psikologi.
Upaya
pemahaman tingkah laku manusia melalui berbagai bidang kajian memiliki arti
yang sangat penting karena berbagai masalah berdimensi luas yng ada dalam
kehidupan manusia misalnya ledakan penduduk, pencemaran lingkungan, perang,
ketegangan global, prasangka rasial, kriminalitas,kelaparan dan kemiskinan baru
dapat diatasi salah satunya dengan terlebih dahulu memahami perilaku manusia
dalam berbagai dimensi.
Dalam
cakupan yang lebih kecil, khususnya berkaitan dengan profesi bimbingan dan
konseling yang bertugas memberikan layanan bimbingan dan konseling terhadap
individu yang memerlukan bantuan, pemahaman tingkah laku menjadi suatu
kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan, karena pemahaman tingkah laku menjadi
modal utama dalam upaya pemberian bantuan. Dengan demikian, upaya untuk
mendapatkan pemahaman atas tingkah laku manusia tidak sekedar upaya untuk
melampiaskan rasa ingin tahu manusia saja, akan tetapi bahkan menjadi suatu
kewajiban bagi manusia itu sendiri untuk mempertahankan kelangsungan hidup
dan meningkatkan kualitas kehidupannya dimasa-masa selanjutnya.
C. Psikologi Kepribadian Sebagai Bidang Kajian dalam Pemahaman
Tingkah
Upaya
pemahaman tingkah laku dalam profesi Bimbingan dan Konseling dikaji dalam
kerangka psikologi kepribadian. Kata kepribadian yang berasal dari kata personality (inggris) yang berasal dari katapesona (latin) yang berarti topeng. Topeng merupakan tutup muka yang sering dipergunakan oleh pemain-pemain
panggung. Maksud dari penggunaan istilah tersebut adalah untuk menggambarkan
prilaku, watak atau pribadi seseorang yang dalam manifestasinya kehidupan sehari-hari tidak selalu membawakan
dirinya sebagaimana adanya, melainkan selalu menggunakan tutup muka dengan
tujuan untuk menutupi kelemahannya.
Psikologi
kepribadian menurut Korwara, 1983. Menjelaskan bahwa kepribadian merupakan salah satu bidang dalam psikologi
yang mempelajari perilaku manusia secara total dan menyeluruh.
Sedangkan
menurut Atkinson, 1998. Kepribadian
merupakan segala bentuk pola pikiran, emosi, dan perilaku yang berbeda dan
merupakan karakteristik yang menentukan gaya personal individu dan mempengaruhi
interaksinya dengan lingkungan. Whiterington (dalam rumini, 1988) menggambarkan
bahwa kepribadian sebagai keseluruhan tingkah laku seseorang yang
diintegrasiakan, sebagaimana yang tampak pada orang lain.
Kepribadian bukan hanya yang melekat pada diri seseorang,
tetapi lebih merupakan hasil dari suatu pertubuhan yang lama dalam suatu
lingkungan kultural. Selanjutnya Whitherington (dalam Rumini, 1988) membedakan
cara pemakaian perkataan kepribadian sebagai berikut :
1. Secara
populer kepribadian adalah kesan yang ditimbulkan oleh sifat-sifat lahiriah
seseorang, misalnya cara berpakaian, sifat jasmaniah, daya pikat dan
sebagainya.
2. Para
serjana psikologi lebih memperhatikan arti yang lebih dalam dan luas, yang
meliputi pula sifat-sifat yang khas, unik, yang selamanya ada pada orang yang
bersangkutan, tetapi tidak selalu tampak pada observasi sepintas lalu yang
dilakukan pertama kalinya.
Dari
defenisi-defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa psikologi kepribadian
merupakan salah satu bidang dalam psikologi yang mempelajari perilaku manusia
dalam bentuk karakteristik personal individu yang khas dan terintegrasi baik
berupa pola pikiran, emosi, dan perilaku, bersifat berbeda antara satu individu
dengan yang lainnya serta mempengaruhi interaksi individu dengan lingkungannya.
Psikologi
kepribadian seperti halnya dengan bidang-bidang psikologi yang lain seperti
psikologi perkembangan, psikologi umum, psikologi sosial, psikologi industri,
dan psikologi pendidikan memberi sumbangan berharga dalam pemahaman tingkah
laku melalui kerangka kerja psikolgi yang ilmiah, yaitu dengan menggunakan
konsep-konsep yang mengarah langsung dan terbuka bagi pengujian empiris serta
menggunakan metode-metode yang sedapat mungkin dapat dipercaya (valid) dan
memiliki ketepatan.
Yang
membedakan psikologi kepribadian dengan psikologi yang lain adalah usahanya
untuk mensintesisikan dan menintegrasikan prinsip-prinsip yang terdapat dalam
berbagai bidang psikologi lain. Dengan demikian, cakupan bidang kajian
psikologi kepribadian bersifat sangat luas karena semua faktor yang menentukan
atau mempengaruhi tingkah laku manusia menjadi objek penelitian dan pemahaman
para ahli psikologi kepribadian. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan
bahwa psikologi kepribadian dalam kajiannya berusaha menjelaskan perilaku
manusia dalam bentuk :
1. Penggambaran dan penjelasan
perbedaan individual dengan berbagai cara.
2. Sintesis berbagai proses yang
mempengaruhi interaksi individu dengan lingkungannya kedalam satuan
terintegrasi manusia secara total.
D. Kriteria-Kriteria Teori Kepribadian untuk Memahami Tingkah Laku
Menurut
Hall dan Lindzey (1993) sebuah teori kepribadian diharapkan mampu meberikan
jawaban atas pertanyaan sekitar apa, bagaimana, dan mengapa tentang tingkah
laku manusia. Untuk itu menurut Pervin (dalam Hall dan Lindzey) sebuah teori
kepribadian yang lengkap biasanya memiliki dimensi-dimensi sebagai berikut :
1. Pembahasan tentang struktur, yaitu aspek-aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil dan menetap, dan merupakan unsur-unsur pembentuk
sosok kepribadian.
2. Pembahasan tentang proses, yaitu konsep-konsep tentang motivasi untuk menjelaskan dinamika
tingkah laku atau kepribadian.
3. Pembahasan tentang pertumbuhan dan perkembangan, yaitu aneka perubahan pada struktur sejak masa bayi sampai
mencapai kematangan, perubahan-perubahan yang
menyertainya, serta berbagai faktor yang menentukannya.
4. Pembahasan tentang psikopatologi, yaitu hakekat gangguan kepribadian dan tingkah laku beserta asal usul dan proses berkembangnya.
5. Pembahasan tentang perubahan tingkah laku, yaitu konsepsi bagaimana tingkah laku bisa dimodifikasi atau
diubah.
Koswara, 1991. Menjelaskan bahwa suatu teori
kepribadian memiliki fungsi yang sama. Ditinjau dari fungsinya suatu teori
kepribadian hendaknya memilki fungsi:
a. Fungsi Deskriptif (menguraiakan atau menerangkan). Fungsi deskriptif ini
menjadikan suatu teori kepribadian yang dapat mengorganisir dan menerangkan
tingkah laku atau kejadian-kejadian yang dialami oleh individu secara
sistematis dan konsisten.
b. Fungsi
Peramalan (prediktif). Dengan demikian suatu teori kepribadian harus dapat menerangkan tingkah laku
atau kejadian-kejadian serta akibat-akibat yang belum muncul pada diri
individu. Hal ini ditunjukan agar konsep-konsep teori dapat diuji secara
empiris dengan kemungkinan diterima atau ditolak.
Ditinjau dari
kriteria-kriterianya, menurut Korwara (1991) suatu teori kepribadian yang
lengkap diharapkan agar memiliki enam kriteria, yaitu ;
1. Veriabilitas. Kriteria ini menekankan bahwa teori kepribadian haruskah
bertumpu pada konsep-konsep yang jelas, didefenisikan secara ekspilit, dan
memilki kaitan yang logis satu sama yang lain sehingga memungkinkan teori
kepribadian ini dapat diferivikasikan atau diperiksa oleh para peneliti lain.
2. Nilai
Heuristik. Kriteria ini mengevaluasi
sampai sejauh mana suatu teori kepribadian dapat secara langsung mengundang
penelitian. suatu teori kepribadian yang baik hendaknya dapat mengundang
diadakannya penelitian dengan bertumpu pada teori kepribadian tersebut. Hal ini
dilakukan antara lain dengan mendefenisikan konsep-konsep secara operasional.
3. Konsistensi
internal. Kriteria ini menekankan bahwa
teori kepribadian hendaknya tidak mengundang pertentangan yang selanjutnya
dapat menimbulkan keraguan atau ketidakpercayaan .
4. Kehematan. Kriteria ini menekanakan bahwa teori kepribadian haruslah disusun
berdasarkan konsep yang sedikit-dikitnya. jadi, apabila suatu teori kepribadian
disusun berdsarkan sejumlah konsep yang berbeda, yang untuk menerangkan setiap
tingkah laku membutuhkan suatu konsep, maka teori kepribadian ini bisa
dikatakan tidak memenuhi kriteria kehematan.
5. Keluasan (Comprehensiveness). Kriteria ini
menunjuk kepada bentangan dan keanekaragaman fenomena yang dapat diinput oleh
suatu teori kepribadian. Semakin luas suatu teori kepribadian, maka akan
semakin banyak pula fenomena atau dasar-dasar tingkah laku yang bisa diungkapkannya.
6. Signifikasi
Fungsi. Kriteria ini menyaratkan
bahwa suatu teori kepribadian yang kuat harus benar-benar bermanfaat dalam
memahami tingkah laku manusia sehari-hari melalui penjelasan-penjelasan yang
diberikannya.
E. Manfaat
Pemahaman Tingkah Laku Bagi Profesi Bimbingan Konseling
Dalam
profesi Bimbingan dan Konseling khususnya bimbingan dan konseling
di sekolah, pemahaman tingkah laku dapat memberi sumbangan dalam layanan
profesi berupa :
1. Kemudahan untuk mengenal
sifat-sifat dari individu atau anak didik yang diberi layanan bimbingan dan
konseling sehingga pada akhirnya pelayanan profesi dapat dengan mudah
diberikan.
2. Pemahaman yang utuh dan menyeluruh
terhadap tingkah laku masing-masing anak didik yang dibimbing sehingga pada
akhirnya guru atau petugas bimbingan dan konseling di sekolah dapat memberikan
pembinaan yang lebih jauh dan mendalam terhadap bakat, hobi, dan kegemaran anak
didik.
3. Pengenalan sifat anak didik
yang dibimbing secara mendalam sehingga pada akhirnya guru pembimbing dapat
mencegah kemungkinan timbulnya frustasi bagi anak dan hingga akhirnya
pembelajaran yang berlangsung di sekolah dapat berjalan dengan baik dan lancar.
4. Diperolehnya pemahaman yang
utuh terhadap pribadi anak didik sehingga guru pembimbing dapat dengan tepat
memperlakukan dan menolong anak didik, untuk mencapai kedewasaan dan tanggung
jawabnya sendiri dengan baik.
5. Pengenalan yang mendalam
terhadap anak didik sehingga guru dapat menghindarkan diri dari kemungkinan
timbulnya konflik dengan anak didik yang dapat menimbulkan hilangnya kewibawaan
guru pembimbing di mata anak didiknya.